Saturday, January 2, 2016

Antara Cinta dan Pendewasaan

   Yo....para blog-reader (bukan card reader) yang setia heheh. Kali ini gue bakal share curhatan seseorang yang menyempatkan waktunya buat cerita dan bertanya. Sebelumnya gue berterima kasih soalnya....Ini pertanyaan cukup dibikin pusing sama kata-katanya tapi akhirnya bisa gue jawab, Karena apa? Iya karena gue juga penasaran apa jawaban tepatnya hehe tapi ini menurut versi gue lho. Disini gue cuma membantu aja, Kalian sebagai para pembaca juga bisa nambahin yang lebih tepatnya kok tapi dibawah komentar ya^^. Langsung aja ke pertanyaan nya ya heeheee....Okay cekidot!

Tanya:
1. "Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada dan kita terus mengejar kesempurnaan, apa gue berarti mengejar sesuatu yang gak ada?"
2. "Lalu jika yang namanya memaafkan itu melupakan, bagaimanaa cara melupakan sesuatu yang telah kita maafkan?”

Jawaban pertama:
“Kalau yang namanya kesempurnaan itu gak ada, bukan berarti kita mengejar sesuatu yang gak ada. Kenapa? Karena dengan semua masalah ada, kita seharusnya terus berusaha menyikapinya dengan sikap terbaik agar mendapatkan tujuan yang sama.
Karena kita ga sempurna,maka masalah akan terus datang. Dengan terbiasanya kita akan hal itu seharusnya kita menyikapi dengan fikiran yang dewasa.”

“Manusia emang ga ada yang sempurna kok. Hmmm tapi kita (manusia) adalah mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna diantara yang lain, jadi kita masih punya akal fikiran yang jernih dan sehat buat menyikapi masalah J dan yang gue tau, ga ada manusia yang luput dari kesalahan dan masalah”

Jawaban gue yang kedua:
“Memaafkan bukan berarti melupakan kok. Memaafkan itu ada karena konflik atau masalah yang timbul sebelumnya. Sifat dasar manusia ga akan pernah lupa akan adanya konflik. Kecuali ada konflik yang datang lebih hebat daripada konflik sebelumnya.”


*lalu uban uban berguguran sepanjang gue mikir jawaban di atas.....*
*nevermind* Oke lanjut pertanyaan berikutnya...

Tanya:
1.     “Bagaimana kita tahu apa yang kita pilih itu ‘benar’? Bagaimana kita tahu apakah kita akan bahagia dengan pilihan kita. Aksi kita. Konsekuensi kita...”
2.     “Lalu apa yang harus kita lakukan pada kenangan yang memaksa untuk terus diingat?”

Lalu jawaban gue pertama....
“Kalau kita tahu apa yang kita pilih akan selalu benar dan akan bahagia dalam pilihan kita. Kita ga akan pernah melewati fase ‘pendewasaan’ lho. Kita ga akan pernah melewati fase penyesalan. Ga akan pernah melewati fase ujian. Iya, ujian yang meningkatkan kesabaran kita, kesabaran hati kita yang pernah disakiti dan dikecewakan”


Jawaban gue yang kedua....

“Memang, yang namanya kenangan itu pasti diingat,harus! Tapi kenangan yang seperti apa itu? Kenangan yang patut diingat itu adalah kenangan manis dengan orang yang tepat,kenangan bahagia dengan orang yang benar benar kita sayangi dan meyayangi kita..
Ini terjadi belum lama sama kehidupan gue. Iya, sekarang yang tersisa tinggal kenangan, antara gue...keluarga gue.... dan seseorang yang telah meninggalkan kami,yaitu Om gue.
Apakah kenangan bersama om gue harus gue lupakan?"
Oke lanjut ke topik berikutnya.....

“Bagaimana jika sebaliknya? I mean, kenangan bersama orang yang ‘pernah’ benar benar menyayangi kita, lalu ia mengecewakan kita?”


"Yup,kenangan seperti itu emang ga akan dilupa. Tapi jika kenangan manis itu ternyata dari orang yang mengecewakan kita setelahnya,untuk apa diingat? Rasa kenangan manis itu perlahan lenyap! Lenyap oleh pahit yang dia berikan”


Naah...gimana guys? mungkin ada salah satu pertanyaan kalian yang udah kejawab.
Buat kalian para pembaca yang mau nambahin silahkan di kolom komentar^^
Kritik dan saran dipersilahkan loh! Tanpa kritik dan saran kita bakalan begini begini aja.


Terima kasih buat yang udah nyempetin baca. Tulisan berikutnya pasti nyusul kok heheee.


Contact me! on
facebook : Rizqy Adhisatya
Twitter   : @AdhisatyaR

Email       : rizkyadhisatya@gmail.com